www.arahberita.id – Siswa madrasah ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami tantangan besar dalam proses belajar mengajar. Mereka terpaksa melaksanakan kegiatan belajar di gubuk yang sederhana akibat kondisi bangunan sekolah yang sangat memprihatinkan.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah, Otong Safei, menjelaskan bahwa keadaan sekolah mereka sangat buruk. Kekurangan ruang kelas dan bangunan yang rusak membuat proses pembelajaran menjadi sulit dan tidak nyaman.
Mereka harus beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas namun tetap semangat dalam belajar. Meskipun menggunakan fasilitas yang minim, para siswa tidak kehilangan motivasi untuk menuntut ilmu.
Mewujudkan Pembelajaran di Tengah Keterbatasan Infrastrukutr
Keadaan MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah menunjukkan kesulitan yang dihadapi dalam dunia pendidikan. Mereka memiliki enam kelompok belajar, namun hanya tersedia lima ruang kelas yang memadai untuk menampung semua siswa.
Dengan sumber daya yang ada, pihak sekolah terpaksa membangun gubuk sederhana dari bahan seadanya. Gubuk ini digunakan untuk kelas 6, meskipun kondisi ini sangat berisiko terutama saat cuaca buruk.
“Saat hujan, anak-anak harus bertahan agar tidak terkena air; saat panas, mereka kepanasan,” jelas Otong. Keterpaksaan ini membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih sulit dan tidak ideal.
Keprihatinan terhadap Keselamatan Siswa
Kondisi bangunan utama di MI ini juga menimbulkan kekhawatiran serius. Atap yang bocor dan dinding yang lapuk semakin memperburuk situasi, membuat para pengajar dan siswa cemas akan keselamatan mereka.
Otong mengungkapkan kekhawatirannya, terutama saat cuaca buruk melanda. “Kami selalu cemas akan keselamatan murid-murid,” tuturnya, menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik sekolah.
Situasi ini menjadi semakin sulit ketika mereka menyadari tidak ada bantuan signifikan dari pemerintah setempat. Usaha untuk meminta bantuan melalui proposal perbaikan belum juga membuahkan hasil.
Kesulitan Ekonomi Masyarakat di Sekitar Sekolah
Di tengah kondisi yang sulit, banyak orang tua siswa juga mengalami kesulitan ekonomi. Sebagian besar warga di sekitar kampung bekerja sebagai petani dengan pendapatan yang tidak menentu, sehingga tidak memungkinkan untuk memberikan iuran untuk perbaikan sekolah.
Otong merasa tidak tega meminta iuran dari orang tua siswa. “Kondisi ekonomi masyarakat di sini menengah ke bawah, tidak memungkinkan mereka untuk berkontribusi,” ujarnya.
Hal ini membuat keberadaan MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah sangat berarti sebagai satu-satunya sarana pendidikan bagi 149 anak dari beberapa kampung di sekitarnya.
Perjuangan Menuju Pendidikan yang Lebih Baik
Bagi anak-anak di daerah ini, akses ke sekolah negeri menjadi tantangan tersendiri. Jika ingin bersekolah di SD, mereka harus berjalan kaki lebih dari tiga kilometer, menyusuri jalanan kampung yang rusak.
Antusiasme anak-anak untuk belajar meskipun dalam kondisi yang serba terbatas menunjukkan ketahanan dan harapan mereka. Pendidikan tetap menjadi prioritas utama bagi mereka demi masa depan yang lebih baik.
Dukungan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk meningkatkan kondisi sekolah dan memberikan fasilitas yang lebih memadai. Bagaimanapun, pendidikan adalah hak setiap anak yang harus diperjuangkan.


