www.arahberita.id – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam perkembangan ekonomi nasional melalui keikutsertaan dalam Investor Daily Summit 2025, dengan tema “New Economic Order.” Kegiatan yang diadakan oleh B-Universe di Jakarta International Convention Center pada tanggal 8 Oktober 2025 ini dihadiri oleh berbagai tokoh dari bidang ekonomi dan akademisi yang memberikan wawasan penting.
Sebanyak enam puluh mahasiswa dari FEB UNUSIA mengikuti acara ini dengan penuh semangat. Forum itu menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk memahami kebijakan ekonomi yang berdampak baik pada tingkat nasional maupun global. Ini bukan kali pertama UNUSIA terlibat, melainkan bagian dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan B-Universe untuk meningkatkan pemahaman literasi ekonomi di kalangan pelajar.
Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., sebagai dosen dan ekonom di FEB UNUSIA, memberikan pandangan kritis terhadap berbagai isu terkini dalam ekonomi. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi perekonomian yang cenderung terpusat pada kepentingan politik tanpa memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat.
“Perekonomian kita masih menghadapi persoalan keberpihakan. Ekonomi kerakyatan sering kali hanya menjadi jargon politik, padahal hakikatnya adalah memastikan bahwa kebijakan ekonomi berpihak pada petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil,” jelas Aras dalam diskusinya. Melihat lebih dekat, ia merasakan keprihatinan mendalam terhadap situasi ini, di mana hak-hak masyarakat sering kali terabaikan demi kepentingan yang lebih besar.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa sumber daya maritim dan pertanian adalah tulang punggung ekonomi, namun sering kali menjadi komoditas untuk pasar internasional. “Orientasi ekonomi kita masih berbasis ekspor bahan mentah, bukan pada penguatan nilai tambah di dalam negeri,” tambahnya.
Dr. Aras mengkaji sektor ekonomi pangan sebagai area kunci untuk menuju kemandirian nasional. “Krisis pangan global menuntut Indonesia untuk memperkuat produksi dan distribusi domestik. Ekonomi pangan mestinya dikelola dengan prinsip kedaulatan dan keberlanjutan, bukan hanya bergantung pada mekanisme pasar,” ungkapnya.
Dalam konteks kontrol impor, ia menyatakan pentingnya adanya pengawasan yang lebih baik di sektor bea cukai. “Impor yang tidak terkendali dapat merusak industri dalam negeri. Akan sangat berbahaya jika bea cukai hanya beroperasi sebagai pintu gerbang administrasi perdagangan tanpa melindungi industri lokal,” tegaskan Dr. Aras.
Dalam pandangannya, konsep new economic order tidak bisa semata-mata difokuskan pada efisiensi dan investasi asing. “Kemandirian ekonomi harus berbasis pada nilai-nilai keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis,” tuturnya, menekankan pentingnya integrasi prinsip-prinsip keadilan dalam setiap kebijakan yang dilaksanakan.
Peran Penting Forum Dalam Membangun Kesadaran Ekonomi Mahasiswa
Asyiroh Fajriyah, M.E., yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Syariah di FEB UNUSIA, menekankan bahwa forum seperti Investor Daily Summit sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami indikator ekonomi secara menyeluruh. “Acara ini menawarkan pengalaman belajar yang menantang di mana mahasiswa dapat belajar dari kebijakan ekonomi yang ada,” katanya.
Lebih dari sekadar memberikan informasi, forum ini juga menyediakan wawasan mengenai bagaimana etika ekonomi Islam dapat menjadi komponen penting dalam pembangunan sistem ekonomi nasional. “Nilai-nilai keadilan yang diusung dalam ekonomi syariah memiliki potensi untuk mendukung pengembangan ekonomi yang lebih inklusif dan transparan,” jelas Fajriyah.
Melihat kondisi sosial ekonomi saat ini, potensi ekonomi syariah menjadi salah satu poin nyata yang dapat mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. “Sektor halal, keuangan syariah, dan koperasi berbasis nilai Islam dianggap sebagai pilar penting dalam upaya menggerakkan ekonomi rakyat di masa depan,” imbuhnya optimis.
Dengan adanya partisipasi aktif mahasiswa FEB UNUSIA dalam acara ini, terlihat sinergi antara dunia akademis, industri, dan pemerintah. “Kolaborasi ini adalah langkah nyata untuk menciptakan sistem ekonomi baru yang lebih berpihak pada rakyat dan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Fajriyah. Ini menunjukkan bahwa generasi muda berambisi untuk menjadi pemimpin masa depan yang peduli terhadap isu-isu fundamental ekonomi.
Kepentingan Masyarakat dalam Arah Ekonomi Baru
Investasi dalam pendidikan ekonomi yang baik di kalangan mahasiswa menjadi prinsip penting dalam menciptakan generasi yang memahami dinamika global. “Dengan literasi ekonomi yang lebih baik, mereka dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan strategis di masa depan,” urai Dr. Aras.
Kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi menjadi semakin relevan, terutama saat menghadapi tantangan global. “Mahasiswa perlu memahami bahwa tantangan ini bukan hanya dampak dari kebijakan, tetapi juga terkait dengan bagaimana cara kita beradaptasi dan mengelola sumber daya secara bijaksana,” tambah Aras.
Dalam rangka menciptakan kebijakan yang berdampak positif, keterlibatan masyarakat dalam diskusi publik menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. “Kita perlu melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan agar arah ekonomi yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka,” saran Asyiroh Fajriyah.
Dengan demikian, forum-forum seperti Investor Daily Summit tidak hanya menjadi ajang belajar bagi mahasiswa tetapi juga menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi dan harapan masyarakat. “Ini adalah momentum penting untuk menunjukkan bahwa kehadiran suara rakyat dalam menentukan arah kebijakan ekonomi sangat diperlukan,” tambahnya semangat.
Ketika semua elemen bersatu untuk membahas isu-isu ekonomi, ada harapan untuk mencapai sistem yang lebih adil dan berkelanjutan. “Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar ekonomi kita tumbuh dan berkembang dengan inklusif,” tutup Dr. Aras, memberikan catatan penuh harap untuk kolaborasi antara akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi ekonomi.


