www.arahberita.id – Ketua Pusat Kebijakan Strategis DPP Partai Gelombang Rakyat Indonesia, KH. Ahmad Mudzofar Jufri, Lc., M.A, menegaskan pentingnya pemahaman Islam yang kooperatif dalam konteks sosial. Menurutnya, Islam yang toleran harus dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kolaborasi dan kerjasama, bukannya konfrontasi.
Pernyataan ini disampaikannya dalam kajian Pengembangan Wawasan Keislaman, yang membahas tentang konsep ‘Islam Kooperatif’ pada malam yang penuh makna. Penyampaian yang lugas dan mendalam ini mengarah pada pentingnya nilai-nilai kerja sama dalam Islam.
Dengan pendekatan kooperatif, umat Islam diajak untuk berkolaborasi dalam kebaikan dan memperkuat hubungan antarsesama. Hal ini menjadi sangat relevan di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi.
Islam Kooperatif Sebagai Alternatif untuk Konfrontatif
KH Ahmad Mudzofar menjelaskan bahwa nilai kooperatif dalam Islam tidak hanya sekadar teori, tetapi harus diterapkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dalam ungkapannya, ia mengutip pepatah yang menyatakan bahwa satu musuh lebih berbahaya daripada seribu teman.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya membangun hubungan baik dengan lingkungan, meskipun ada perbedaan prinsip yang muncul. Islam yang kooperatif cenderung bersikap inklusif dan mendorong kolaborasi demi kebaikan bersama.
Lebih lanjut, KH Mudzofar menegaskan bahwa perbedaan dalam pandangan atau ide tidak seharusnya menimbulkan permusuhan. Dalam konteks ini, sikap kooperatif menjadi sebuah jembatan untuk mengatasi perbedaan dan menemukan kesamaan.
Fenomena Islam Konfrontatif di Indonesia
Di Indonesia, situasi semakin memprihatinkan dengan munculnya fenomena Islam konfrontatif yang sering kali dipicu oleh kebencian. KH Mudzofar mencatat bahwa banyak kelompok yang mengklaim sebagai pembela Islam, namun menerapkan pendekatan yang justru bertentangan dengan prinsip kooperatif.
Kelompok-kelompok ini sering dianggap sebagai penghalang kemajuan dakwah Islam karena sikap mereka yang cenderung menentang pemerintah. Dalam pandangannya, mereka sering kali lebih fokus mencari kesalahan daripada membangun dialog konstruktif.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa Islam politik, meskipun memiliki andil dalam penyebaran dakwah, juga sering membawa dampak negatif ketika pola pikirnya lebih mengarah pada konfrontasi. Keberadaan kelompok tersebut bisa mengakibatkan konflik yang tidak produktif bagi masyarakat.
Mencari Solusi untuk Islam yang Lebih Kooperatif
KH Mudzofar menyerukan perlunya langkah konkret untuk mengubah pola pikir konfrontatif menjadi kooperatif. Ia menegaskan bahwa toleransi harus dimulai dari diri sendiri, tidak hanya antar umat beragama, tetapi juga di internal komunitas Muslim sendiri.
Sejalan dengan itu, setiap perbedaan harus dilihat sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Dengan mengedepankan sikap kooperatif, masyarakat dapat lebih mudah berkolaborasi dalam menciptakan kebaikan.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar setiap individu memiliki kesiapan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Ini termasuk mewujudkan amal shaleh yang dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat.
Menurutnya, sikap ini sangat krusial untuk meningkatkan harmoni dan kerukunan dalam kehidupan beragama. Kesejahteraan umat akan tercapai jika semua bekerja sama dan bertujuan sama demi kebaikan.
Dengan demikian, pemahaman tentang Islam yang kooperatif diharapkan dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, memungkinkan umat untuk hidup berdampingan dengan damai dan produktif. Ini bukan hanya sekadar ide, tetapi langkah-langkah nyata yang harus diambil oleh setiap individu.


